MUKMIN YANG BAHAGIA

MUKMIN YANG BAHAGIA

Setiap orang pasti mendambakan hidup bahagia, aman, nyaman, dan sejahtera apalagi seseorang yang beriman sudah pasti menginginkan kedamaian hidup, baik di dunia terlebih lagi di akhirat kelak. Sebab kehidupan di akhirat jauh lebih berarti dibandingkan kehidupan di dunia yang sifatnya sementara “sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”. (QS. Al A’laa (87) : 17).

Al Qur’an memberikan resep untuk menjadi mukmin yang bahagia.

Pertama : Senantiasa berusaha untuk khusyu’ didalam sholat. Sholat adalah sarana komunikasi hamba dengan sang penciptanya apabila sarana tidak baik tentunya akan terjadi sebaliknya, maka muaranya di dalam hati. Rasulullah Saw sering bersabda kepada bilal “Wahai Bilal…! Mari kita beristirahat dengan melaksanakan sholat. Sholat yang khusyu’ akan mencegah seseorang dari keinginan untuk melakukan kemungkaran, kejaliman, serta perbuatan tercela lainnya. Hal ini akan membuat seseorang merasa aman karena tidak menyakiti diri ataupun orang lain. Sholat yang khusyu’ dan benar menjadi jaminan baiknya amal-amal yang lain di yaumul hisab nanti. Sesungguhnya amal seorang hamba yang pertama kali di hisab pada hari kiamat nanti adalah sholatnya. Apabila nilai sholatnya baik maka amal-amal yang lain dikategorikan baik. Sebaliknya jika sholatnya buruk, maka amal-amal lain akan dianggap buruk” (Al Hadis).

Kedua : Meninggalkan aktifitas yang tidak bermanfaat, sikap hura-hura dan menghamburkan harta. Seorang mukmin sadar betul bahwa alam dunia yang ditempati sekarang hanyalah persinggahan sementara, sedangkan tujuan akhirnya adalah akhirat. Alam dunia adalah sebuah lading tempat bercocok tanam yang hasilnya dapat diterima pada hari pembalasan. Nabi bersabda yang artinya  “Dunia adalah lading akhirat,” Maka sebagai orang orang mukmin yang cerdas tidak akan pernah membiarkan waktunya berlalu tanpa amal sholeh, sebab orang mukmin telah diajarkan prinsip hidup agar senantiasa beramal sholeh “Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian terkecuali mereka mau beramal sholeh dan saling menasehati dalam hal kebenaran dan kesabaran” (Qs. Al Ashr : 1-3).

Ketiga : Berusaha menunaikan hak fakir miskin sebab dari sebagian harta yang ada pada mereka adalah hak fakir miskin. Seorang mukmin bertaqwa tidak akan berani menikmati hartanya dengan tenang sementara disekelilingnya masih ada orang-orang yang kelaparan, ia menyadari bahwa orang teraniaya akan dikabulkan Allah SWT, sehingga bila tidak segera untuk memberikan hak mereka dikhawatirkan datangnya azab Allah yang disebabkan oleh kelalaian tersebut.

Keempat : Senantiasa berusaha untuk menjaga kemaluannya, nafsunya tidak diumbar kepada orang yang bukan muhrim, karena seorang mukmin menyadari bahwa balasan orang yang menahan hawa nafsunya kecuali terhadap pasangan-pasangan mereka adalah surga “Dan adapun orang-orang yang takut kepada keagungan Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya “(Qs. Annaziat (79) : 40-41). Bagi seorang mukmin akan lebih memilih untuk mengabaikan kenikmatan sesaat di dunia dan tidak mau menukarnya dengan azab Allah yang sangat dahsyat.

Kelima : Selalu memegang amanah dengan baik, amanah dalam arti yang luas. Bila ia seorang pelajar yang tekun dalam mencari ilmu lalu ia sampaikan ilmu tersebut kepada orang lain dengan penuh tanggung jawab. Bila ia seorang pedagang, maka akan berusaha untuk selalu jujur dan tidak mengurangi timbangan karena ia tahu bahwa dosa teramat besar di sisi Allah SWT.” Celakalah bagi orang yang curang yaitu apabila ia menimbang untuk dirinya ia lebihkan dan apabila ia menakar untuk oranglain ia kuragi” (Qs. Al Mutoffifin : 1-2). Bila ia seorang pejabat akan memerintah dengan adil dan memposisikan diri sebagai pelayan bagi rakyat yang ia pimpin bukan sebailknya ingin selalu dilayani. Inilah yang disebut dengan sifat amanah pada bidang dan profesi masing-masing. Intinya mukmin yang berbahagia adalah yang menjadikan sholatnya sebagai penasehat dan ada yang muhasabah terhadap diri sendiri agar setiap waktu yang ia lewati terisi hal-hal yang baik bermanfaat bagi dirinya, keluarganya maupun orang lain dan mukmin yang memiliki kepekaan terhadap penderitaan yang dialami orang lain, ia dermawan tidak rakus dantidak mau menang sendiri juga seorang mukmin yang mampu menjaga kehormatan dirinya untuk tidak melakukan hal-hal yang keji dan mungkar karena takut kepada Allah. Akhirnya semoga kita semua ditakdirkan mampu menjadi hamba-hamba yang tawadhu, sabar, dan taqwa kepada Allah, itulah mukmin sejati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: